Gema di Antara Kita
TW: IVF, kegagalan medis, kecemasan.
__
Ruangan itu beraroma antiseptik. Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan ketegangan yang menggantung di udara. Mira duduk di sisi ranjang dengan tangan gemetar, sementara Zafran berdiri di sebelahnya, menggenggam jemarinya erat.
Di hadapan mereka, seorang dokter berusia sekitar empat puluhan duduk dengan tenang di balik meja, menatap mereka dengan ekspresi profesional namun hangat. Namanya Dr. Raka, spesialis fertilitas yang menangani mereka selama beberapa bulan terakhir.
"Kalian siap untuk prosedur ini?" tanyanya sambil membuka berkas di tangan.
Mira menarik napas dalam, lalu mengangguk. "Kami sudah memikirkan ini matang-matang, Dok."
Zafran ikut mengangguk, meskipun ada sedikit keraguan yang dia pendam sendiri.
Dokter Raka tersenyum tipis sebelum mulai menjelaskan, "Baik. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, program bayi tabung atau IVF ini memiliki beberapa tahapan yang harus dijalani. Yang pertama adalah stimulasi ovarium, di mana Bu Mira harus menjalani serangkaian suntikan hormon agar tubuh memproduksi lebih banyak sel telur."
Mira menggigit bibirnya, sementara Zafran hanya diam, mendengarkan dengan saksama.
"Dampaknya?" tanya Zafran.
Dokter Raka melipat tangannya di atas meja. "Setiap pasien memiliki reaksi berbeda-beda. Secara fisik, Bu Mira mungkin akan mengalami kembung, nyeri perut, kelelahan, atau bahkan perubahan berat badan. Secara emosional, ini bisa lebih sulit. Perubahan hormon yang drastis dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem, dari mudah marah hingga depresi ringan."
Mata Mira sedikit membesar. "Depresi?"
Dokter Raka mengangguk. "Bukan hal yang jarang terjadi. IVF adalah proses yang menuntut secara fisik dan emosional. Saya ingin kalian tahu bahwa perubahan suasana hati yang Bu Mira rasakan dari cemas hingga depresi ringan itu adalah hal yang umum. Perasaan cemas, khawatir, dan terkadang putus asa bisa muncul kapan saja. Ini bukan hanya tentang menunggu hasil akhir, tetapi juga tentang tubuh dan pikiran yang bekerja sangat keras."
Mira menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca.
Dokter Raka melanjutkan dengan lebih serius, "Kami harus memastikan bahwa stimulasi ovarium berjalan dengan baik, tapi kalian harus siap menghadapi berbagai kemungkinan dari efek samping yang dapat mengganggu, hingga potensi kegagalan dalam menghasilkan sel telur yang cukup. Dan jika proses ini gagal, kita akan kehilangan kesempatan untuk melakukan prosedur transfer embrio, yang bisa menjadi pukulan besar."
Zafran meremas tangan istrinya. "Mas akan selalu ada buat kamu," katanya pelan.
Mira tersenyum kecil, meskipun ada ketakutan yang masih tersisa dalam matanya.
"Setelah stimulasi ovarium, kita akan mengambil sel telur yang matang untuk dibuahi di laboratorium," lanjut dokter Raka. "Jika berhasil, embrio yang berkembang akan ditanamkan kembali ke dalam rahim Bu Mira. Namun, kalian harus tahu bahwa meskipun prosedur ini memiliki banyak harapan, banyak faktor yang bisa mempengaruhi keberhasilannya. Salah satunya adalah kualitas embrio itu sendiri."
"Berapa persen kemungkinan berhasil?" tanya Mira, suaranya nyaris berbisik.
Dokter Raka terdiam sejenak sebelum menjawab. "Untuk pasangan seusia kalian, peluang keberhasilannya sekitar 30-40 persen dalam satu siklus. Namun, banyak faktor yang bisa mempengaruhi hasilnya, termasuk kondisi embrio dan respons tubuh Bu Mira terhadap prosedur ini."
Hening. Angka itu jauh lebih kecil dari yang mereka bayangkan.
"Tapi kami harus mencoba, kan?" Mira menatap dokter dengan penuh harap.
Dokter Raka mengangguk. "Tentu. Yang terpenting, kalian berdua harus siap, baik secara fisik maupun mental."
Mira menoleh pada Zafran, seolah mencari jawaban dalam tatapan suaminya. Zafran mengangguk mantap. "Kita bisa jalani ini bersama."
Dan dengan keputusan itu, mereka melangkah ke dalam perjalanan yang penuh harapan dan juga ketidakpastian.
🍀🍀🍀
Hari-hari setelah keputusan itu terasa panjang dan melelahkan. Mira harus menjalani suntikan hormon setiap hari, dan setiap kali jarum menusuk kulitnya, Mira harus menahan perasaan takut yang semakin hari semakin bertumpuk.
Pada awalnya, Mira mencoba tegar. Selalu meyakinkan diri bahwa semua ini adalah bagian dari perjalanan mereka. Namun, semakin lama, tubuh Mira mulai terasa berat. Perutnya sering kembung, emosinya naik turun tanpa kendali. Ada hari-hari di mana Mira menangis tanpa alasan, lalu tertawa beberapa menit kemudian, hanya untuk kembali diam dalam kekosongan.
Zafran selalu berusaha ada di samping Mira. Selalu memastikan Mira tidak melewatkan satu dosis pun dari suntikan itu. Zafran juga menyiapkan makanan sehat, membaca lebih banyak tentang prosedur ini agar bisa membantu istrinya. Namun, di dalam hatinya, Zafran juga mulai merasa lelah.
"Aku seperti bukan diriku sendiri, Mas," ujar Mira suatu malam. Perempuan itu duduk di tepi ranjang, sembari memeluk lututnya.
Zafran duduk di samping Mira, mengusap punggung pelan. "Ini proses yang sulit, Sayang. Tapi kita bisa jalani bersama."
Mira menggeleng, menunduk. "Tapi kenapa rasanya aku sendirian? Aku merasa kosong. Seolah aku hanya tubuh yang sedang menjalani prosedur ini, tapi bukan aku yang sebenarnya."
Zafran menarik napas panjang. "Kalau kamu merasa ini terlalu berat, kita bisa berhenti, Sayang."
Mata Mira membulat, lalu menggeleng cepat. "Nggak! Kita udah sejauh ini. Aku nggak mau menyerah."
Zafran menatapnya dalam. Ada ketakutan dalam suara istrinya, ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan kemungkinan bahwa semua ini tidak akan berhasil.
🍀🍀🍀
Beberapa minggu kemudian, mereka sampai pada tahap yang paling menegangkan—pengambilan sel telur. Mira harus menjalani prosedur ini dengan pembiusan ringan, sementara Zafran menunggu di luar dengan perasaan gelisah.
Ketika akhirnya dokter keluar, Zafran langsung berdiri. "Bagaimana, Dok?"
Dokter Raka tersenyum tipis. "Kami berhasil mengambil beberapa sel telur. Sekarang kita tinggal menunggu hasil pembuahan di laboratorium. Mudah-mudahan embrionya berkembang dengan baik."
Zafran mengangguk, meski dadanya masih sesak oleh kecemasan.
Dua hari kemudian, mereka mendapat kabar bahwa beberapa embrio telah berhasil berkembang. Saat itulah dokter menjadwalkan prosedur transfer embrio ke dalam rahim Mira.
Di ruangan yang tenang, dengan layar monitor di samping tempat tidur, mereka menyaksikan proses itu berlangsung. Dokter dengan hati-hati memasukkan embrio ke dalam tubuh Mira, sementara Zafran menggenggam tangannya erat.
"Ini dia, Mira," bisik Zafran. "Semoga ini awal dari segalanya."
Mira hanya bisa mengangguk, menahan air mata yang menggenang di sudut mata.
🍀🍀🍀
Hari itu, ruang konsultasi dokter terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara detak jam di dinding terdengar jelas di telinga Zafran, seakan menandai detik-detik yang berjalan lambat.
Mira duduk di kursi berhadapan dengan Dokter Raka, tangannya mencengkeram erat jemari Zafran. Matanya menatap dokter dengan harapan yang masih tersisa, seakan berharap ada kesalahan dalam hasil yang mereka terima tadi.
Namun, ekspresi dokter tetap tenang, meski ada sedikit guratan kelelahan di wajahnya.
"Pak Zafran, Bu Mira," dokter memulai dengan nada hati-hati. "Saya tahu ini bukan kabar yang ingin kalian dengar, tapi saya harus menjelaskan apa yang terjadi."
Mira menelan ludah. "Kenapa, Dok?" suaranya nyaris bergetar. "Kenapa hasilnya negatif?"
Dokter menarik napas panjang sebelum menjawab, "Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi keberhasilan bayi tabung. Berdasarkan evaluasi kami, kemungkinan besar embrio yang ditanamkan tidak berhasil berimplantasi dengan baik di dalam rahim."
Zafran mengerutkan kening. "Apa itu karena kualitas embrionya?"
Dokter mengangguk perlahan. "Salah satunya, iya. Dari beberapa embrio yang berhasil berkembang, tidak semua memiliki kualitas yang optimal. Dalam prosedur bayi tabung, kita memang memilih embrio terbaik, tetapi tetap ada kemungkinan bahwa meskipun secara visual tampak sehat, embrio tersebut mungkin memiliki kelainan genetik yang membuatnya gagal berkembang setelah ditanamkan."
Mira menunduk, bibirnya bergetar. "Tapi saya sudah menjaga semuanya, Dok. Saya makan sehat, saya tidak stres, saya bahkan mengikuti semua instruksi yang diberikan."
"Saya tahu, Bu Mira," kata dokter lembut. "Bu Mira sudah melakukan yang terbaik. Tapi ada faktor lain yang berada di luar kendali kita."
Mira mengangkat wajahnya, menatap dokter dengan mata memerah. "Seperti apa?"
Dokter melirik layar komputer di sampingnya sebelum menjelaskan, "Selain kualitas embrio, kondisi rahim juga berperan besar. Dari hasil pemeriksaan sebelumnya, memang tidak ada kelainan yang signifikan. Tapi bisa saja ada faktor mikroskopis yang tidak terdeteksi dalam tes standar, misalnya ketidakseimbangan hormon progesteron atau adanya peradangan kecil di endometrium yang menghambat implantasi."
Zafran menoleh ke arah Mira yang terlihat semakin pucat. "Jadi ada masalah dengan rahim Mira?"
"Bukan masalah besar, Pak Zafran," dokter buru-buru menjelaskan. "Tapi bisa jadi salah satu penyebabnya. Dan bukan berarti Bu Mira tidak bisa hamil di masa depan. Namun, kita perlu evaluasi lebih lanjut jika kalian ingin mencoba lagi."
Mira mengepalkan tangannya. "Jadi, kita harus mulai dari nol lagi?"
Dokter Raka terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Benar. Jika kalian ingin mencoba lagi, kita harus mempersiapkan semuanya dari awal seperti stimulasi hormon, pengambilan sel telur, pembuahan di laboratorium, lalu transfer embrio lagi. Namun, perlu dipertimbangkan bahwa keberhasilannya tetap tidak bisa dijamin 100%."
Hening.
Mira menunduk, bahunya bergetar. Air mata jatuh satu per satu, membasahi rok yang Mira kenakan.
Zafran menggenggam tangan Mira lebih erat, berusaha memberikan ketenangan, meskipun Zafran sendiri merasa kosong.
"Kami butuh waktu, Dok," kata Zafran akhirnya.
Dokter Raka mengangguk mengerti. "Tentu. Saya paham ini bukan keputusan yang mudah. Ambillah waktu sebanyak yang kalian butuhkan. Dan jika nanti kalian ingin mencoba lagi, saya dan tim siap membantu, Pak Zafran."
Mira tidak menjawab. Hanya diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
🍀🍀🍀
Mira keluar dari ruangan dokter dengan langkah pelan. Tangannya masih dalam genggaman Zafran, tapi tidak merasakan apa-apa. Semuanya terasa hampa. Dunia seakan mengecil, menyempit hanya pada suara langkah kaki mereka yang bergema di sepanjang koridor rumah sakit.
Zafran melirik istrinya yang sejak tadi diam. "Sayang, mau mampir ke tempat lain dulu?" tanyanya pelan.
Mira menggeleng. "Aku mau pulang, Mas."
Zafran tidak membantah. Dia hanya meremas tangan Mira lebih erat, berharap bisa sedikit menghangatkan perasaan istrinya yang sedang rapuh. Tapi Mira tetap dingin, seolah jiwanya telah pergi jauh dari tubuhnya sendiri.
🍀🍀🍀
Setelah pulang ke rumah, Mira langsung menuju kamar tanpa berkata apa-apa. Zafran mengikutinya dengan ragu, menunggu istrinya mengatakan sesuatu—apa pun—tapi yang didapatkan hanya sunyi.
Mira duduk di tepi ranjang, membuka ponselnya dan mulai mengetik di mesin pencari.
"Penyebab kegagalan bayi tabung."
"Cara meningkatkan peluang keberhasilan IVF."
"Makanan yang bisa membantu implantasi embrio."
Matanya menyusuri layar dengan intens, seolah jawaban atas semua kegelisahannya bisa ditemukan dalam deretan artikel yang bertebaran di internet.
Zafran menghela napas, duduk di sampingnya. "Sayang udah dulu, ya?"
"Aku harus tahu kenapa, Mas" gumam Mira tanpa menoleh.
Zafran mengusap wajahnya, lalu berkata dengan lembut, "Sayang, dokter udah bilang bahwa kemungkinan keberhasilannya memang nggak seratus persen. Bisa jadi karena faktor embrio yang nggak berkembang, atau karena tubuh kamu belum siap menerima implantasi. Kita udah coba yang terbaik."
Mira menutup ponselnya dan menatap Zafran dengan mata berkaca-kaca. "Tapi aku merasa aku belum cukup berusaha, Mas. Mungkin aku kurang olahraga, mungkin pola makanku salah, mungkin—"
Zafran meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat. "Dengar, ini bukan salah kamu. Bukan salah siapa-siapa."
Mira menggeleng pelan. "Tapi aku yang seharusnya bisa menjaga tubuhku lebih baik. Aku yang seharusnya bisa membuat bayi itu bertahan."
Zafran merasakan sakit di hatinya mendengar kata-kata itu. Dengan cepat Zafran menarik Mira ke dalam pelukan, membiarkan perempuan itu bersandar di dadanya.
"Kita udah coba, Sayang," bisiknya. "Mas nggak mau kamu menyalahkan diri sendiri."
Mira terisak, bahunya bergetar. "Aku takut, Mas. Kalau kita nggak bisa punya anak apa kita masih bisa bahagia?"
Zafran menutup matanya sesaat, berusaha menahan perasaan yang berkecamuk di dalam diri. Zafran pun takut. Zafran pun bertanya-tanya hal yang sama. Tetapi ada satu hal yang pasti—dia tidak ingin kehilangan Mira hanya karena impian yang belum terwujud.
"Bahagia itu kita yang buat," kata Zafran pada akhirnya. "Mas ingin jadi ayah, tapi Mas lebih ingin tetap punya kamu. Kita bisa coba lagi nanti. Tapi untuk sekarang Mas cuma ingin kamu yang dulu kembali. Istri yang selalu penuh cahaya, yang selalu bisa buat Mas merasa pulang."
Mira diam. Kata-kata Zafran mengalir lembut ke dalam hati, menggugurkan sebagian ketakutan. Mira tahu, luka ini tidak akan sembuh dalam semalam. Tetapi mungkin, untuk pertama kali, Mira bisa mencoba menerima bahwa kebahagiaan mereka tidak harus selalu berbentuk satu hal yang sama.
Malam itu, mereka tertidur dalam keheningan. Tanpa kata-kata, tanpa harapan yang terlalu membebani. Hanya ada kehangatan dua hati yang masih bertahan untuk satu sama lain.
Komentar
Posting Komentar