Ayah Tak Pulang dari Laut
Sudah tiga tahun sejak Ayah tak pulang dari laut, tetapi Ibu masih menyisakan sepasang sandal jepitnya di depan pintu. Sandal itu sudah kotor dan berdebu, warnanya memudar, talinya hampir putus karena usia. Meski begitu, Ibu tidak pernah memindahkannya. Seolah-olah di suatu pagi yang tak bisa kami prediksi, Ayah akan muncul di tikungan jalan, melangkah pelan sambil mengangkat tangan, dan sandal itu akan kembali menemukan pemiliknya. Setiap pagi, Ibu menyapu teras dengan gerakan yang pelan dan hati-hati. Sapu lidi yang mulai rontok tetap ia ayunkan seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh. Setelah itu, ia duduk di kursi rotan menghadap laut—tempat yang tak pernah berhenti memanggil namanya. Tatapannya kosong, namun tangannya tetap sibuk menggulung benang dan memperbaiki jaring lama yang tidak lagi dipakai. Entah mengapa, Ibu selalu memperbaiki jaring itu, padahal jaring yang Ayah pakai melaut sudah lama tidak ditemukan. Mungkin dengan memperbaiki sesuatu yang masih ada, Ibu...