Postingan

Ayah Tak Pulang dari Laut

Gambar
Sudah tiga tahun sejak Ayah tak pulang dari laut, tetapi Ibu masih menyisakan sepasang sandal jepitnya di depan pintu. Sandal itu sudah kotor dan berdebu, warnanya memudar, talinya hampir putus karena usia. Meski begitu, Ibu tidak pernah memindahkannya. Seolah-olah di suatu pagi yang tak bisa kami prediksi, Ayah akan muncul di tikungan jalan, melangkah pelan sambil mengangkat tangan, dan sandal itu akan kembali menemukan pemiliknya. Setiap pagi, Ibu menyapu teras dengan gerakan yang pelan dan hati-hati. Sapu lidi yang mulai rontok tetap ia ayunkan seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh. Setelah itu, ia duduk di kursi rotan menghadap laut—tempat yang tak pernah berhenti memanggil namanya. Tatapannya kosong, namun tangannya tetap sibuk menggulung benang dan memperbaiki jaring lama yang tidak lagi dipakai. Entah mengapa, Ibu selalu memperbaiki jaring itu, padahal jaring yang Ayah pakai melaut sudah lama tidak ditemukan. Mungkin dengan memperbaiki sesuatu yang masih ada, Ibu...

Gema di Antara Kita

Gambar
TW: IVF, kegagalan medis, kecemasan. __ Ruangan itu beraroma antiseptik. Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan ketegangan yang menggantung di udara. Mira duduk di sisi ranjang dengan tangan gemetar, sementara Zafran berdiri di sebelahnya, menggenggam jemarinya erat.   Di hadapan mereka, seorang dokter berusia sekitar empat puluhan duduk dengan tenang di balik meja, menatap mereka dengan ekspresi profesional namun hangat. Namanya Dr. Raka, spesialis fertilitas yang menangani mereka selama beberapa bulan terakhir.   "Kalian siap untuk prosedur ini?" tanyanya sambil membuka berkas di tangan.   Mira menarik napas dalam, lalu mengangguk. "Kami sudah memikirkan ini matang-matang, Dok."   Zafran ikut mengangguk, meskipun ada sedikit keraguan yang dia pendam sendiri.   Dokter Raka tersenyum tipis sebelum mulai menjelaskan, "Baik. Seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, program bayi tabung atau IVF ini memiliki beberapa tahapan yang harus dija...

Kata yang Terbuang

Gambar
Menjalin hubungan lebih dari empat tahun tentu bukan perjalanan yang mudah bagi mereka. Suka dan duka telah mereka lewati bersama, menorehkan kenangan yang tak terlupakan, merangkai hari demi hari penuh arti. Namun, impian yang mereka rajut bersama ternyata hanya semu, berbaur dengan keraguan dan ketidakpastian yang semakin mengabur seiring berjalannya waktu. Gadis dengan rambut sebahu itu menatap langit senja yang perlahan meredup, semburat oranye berganti menjadi bayangan temaram. Tatapannya kosong, tetapi benaknya penuh –menyelam dalam lautan pikiran yang tak berujung, mengarungi kenangan yang berulang kali datang tanpa diundang. Angin sore berembus lembut, menyibak beberapa helai rambutnya, seolah ingin membisikkan sesuatu yang tak mampu diungkapkan oleh kata-kata. "Maaf," kata lelaki di sebelahnya, suara itu terdengar samar namun cukup jelas untuk ditangkap oleh Anka. "Iya," jawabnya pelan, suaranya tercekat. Kata-kata itu terasa berat, seperti ada sebuah...

Senja di Ujung Ingatan

Gambar
Hujan turun pelan, merayap di atas genting, menciptakan melodi yang akrab di telinga. Udara basah merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah yang baru tersentuh rintik. Di dalam kamar yang remang, seorang perempuan tua duduk di ujung ranjangnya, tangannya sibuk merapikan selimut dengan gerakan yang begitu hati-hati, seolah-olah menata ulang sesuatu yang lebih dari sekadar kain—mungkin kenangan, mungkin rindu yang tak berujung. Panti wredha adalah rumah yang asing, tapi juga satu-satunya tempat yang tersisa baginya. Dinding-dindingnya menyimpan gema percakapan yang kerap melayang di udara—tentang cucu yang datang berkunjung, tentang anak yang menelepon sesekali, tentang keluarga yang masih ada, masih peduli. Namun, di sudut ruangan ini, sepi terasa lebih akrab daripada suara manusia. Sejak petugas meminta penghuni kembali ke kamar, Oma hanya duduk diam, membiarkan pikirannya berkelana. Di luar, hujan masih bernyanyi, menyatu dengan suara pelan yang datang d...