Senja di Ujung Ingatan
Hujan
turun pelan, merayap di atas genting, menciptakan melodi yang akrab di telinga.
Udara basah merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma tanah yang baru
tersentuh rintik. Di dalam kamar yang remang, seorang perempuan tua duduk di
ujung ranjangnya, tangannya sibuk merapikan selimut dengan gerakan yang begitu
hati-hati, seolah-olah menata ulang sesuatu yang lebih dari sekadar
kain—mungkin kenangan, mungkin rindu yang tak berujung.
Panti
wredha adalah rumah yang asing, tapi juga satu-satunya tempat yang tersisa
baginya. Dinding-dindingnya menyimpan gema percakapan yang kerap melayang di
udara—tentang cucu yang datang berkunjung, tentang anak yang menelepon
sesekali, tentang keluarga yang masih ada, masih peduli. Namun, di sudut
ruangan ini, sepi terasa lebih akrab daripada suara manusia.
Sejak
petugas meminta penghuni kembali ke kamar, Oma hanya duduk diam, membiarkan
pikirannya berkelana. Di luar, hujan masih bernyanyi, menyatu dengan suara
pelan yang datang dari ranjang sebelah.
"Kemarin
aku pulang ke rumah sebentar, melihat cucu pertamaku."
Suara
itu milik seorang wanita paruh baya, yang tengah berbaring dengan mata
menerawang langit-langit.
"Dia
sudah besar, tahu. Tahun ini masuk SMA. Padahal rasanya baru kemarin aku
menggendongnya."
Ada tawa
kecil yang menyertainya, namun ada pula rindu yang samar. Oma hanya tersenyum
tipis, tidak tahu harus berkata apa.
Di sudut
lain ruangan, seorang perempuan duduk dengan rajutan di tangannya. Jemarinya
lincah menari di atas benang merah yang mulai membentuk pola.
"Kamu
sendiri, Ran?" Tanya Oma.
"Kemarin
anakku menjemputku pulang sebentar. Awalnya kupikir hanya untuk berkumpul
biasa, tapi ternyata mereka menyiapkan kejutan ulang tahun untukku."
Nada
suaranya hangat, penuh kebahagiaan yang masih tersisa.
"Wah,
senangnya!" Suara lain menyahut.
"Wat,
kemarin kamu jadi ikut kelas mini?"
Oma
menoleh. "Jadi, tapi cuma sebentar."
"Astaga,
Wat. Kalau aku jadi kamu, aku pasti bercerita banyak. Seharusnya kamu tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu."
Oma
tersenyum samar. Ada sesuatu yang ditahannya di dalam dada—perasaan yang tak
bisa diucapkan dengan kata-kata.
Kelas
mini adalah sesi yang diperuntukkan bagi penghuni panti untuk berbagi—tentang
kecemasan yang mengendap, tentang luka-luka lama yang belum sembuh, tentang
mimpi-mimpi yang tertinggal di belakang.
Kemarin,
Oma duduk di sana, mendengar satu per satu suara yang mengisi ruangan.
Namun,
ketika gilirannya tiba, ia hanya menggeleng pelan.
Kadang,
sepi tak perlu diceritakan. Kadang, ia hanya perlu diterima, dibiarkan ada.
Hujan
masih turun ketika seorang relawan mengetuk pintu, membawa senyum yang cerah
meskipun langit di luar begitu kelabu.
Mereka
datang setiap minggu, membawa cerita dari luar, membacakan buku, atau sekadar
menemani para penghuni berbincang.
Seorang
gadis muda duduk di kursi di dekat ranjang Oma, menatapnya dengan sorot mata
hangat.
"Oma,
bagaimana kabarnya hari ini?"
Oma
tersenyum tipis. "Baik. Hujan membuat hari ini terasa lebih tenang."
Relawan
itu mengangguk. "Oma ingin berbagi cerita?"
Oma
terdiam sejenak, lalu menghela napas.
"Dulu,
aku punya rumah kecil dengan taman di depan. Suamiku menanam bunga-bunga di
sana, katanya agar rumah selalu terasa hidup. Setelah dia pergi lebih dulu,
rumah itu terasa lebih luas, lebih sunyi."
Mata Oma
menerawang ke luar jendela, seolah mencari sesuatu di balik kabut hujan.
"Anak-anak
sibuk dengan hidupnya sendiri. Awalnya mereka masih sering menelepon, tapi
lama-lama, suaranya semakin jarang terdengar. Hingga akhirnya aku di sini, di
panti ini, menunggu sesuatu yang entah apa."
Ruangan
menjadi lebih hening. Gadis muda itu menatapnya dengan iba, tapi Oma hanya
tersenyum.
"Kalian
beruntung, ya. Masih ada yang ingin melihat keadaan kalian."
Suaranya
pelan, hampir seperti gumaman.
"Aku
sudah lupa rasanya berkumpul dengan keluarga. Anak-anakku bahkan tak pernah
datang ke sini."
Tak ada
yang menjawab. Tak ada yang berani menyentuh luka yang tak terlihat.
—THE END—
Komentar
Posting Komentar